Mari rayakan bulan film nasional dengan caramu

Ngalam Misbar, Mengusik Kembali Memori Tentang Kelud

by - Februari 17, 2018

Misbar seolah selalu lekat dengan memori tentang Kelud, sebuah bioskop di Malang yang memiliki popularitas membahana pada masa tahun 70-80-an. Layaknya nama yang disandang, bioskop ini dahulunya terletak di Jalan Kelud, kecamatan Klojen, kota Malang. Lantaran harga karcisnya yang murah, bioskop Kelud mampu menjangkau penikmat film hingga kalangan masyarakat ekonomi lemah.
Kelud memiliki keunikan tersendiri yang membuat masyarakat susah lupa tentang keberadaannya. Tak seperti bioskop pada umumnya, Kelud memutarkan film dengan sistem drive-in. Sehingga, memungkinkan pengunjung masuk sekaligus dengan kendaraannya. Sistem ini pula yang membuat atap bioskop ini menjadi terbuka dan lekat dengan sebutan bioskop 'misbar', yakni singkatan dari gerimis bubar atau gerimis buyar.
Hal yang paling khas dari bioskop Kelud adalah suasananya yang ramai dan seperti pasar malam. Para penonton bisa sambil membeli berbagai jajanan dari pedagang yang berkeliling. Tak ada aturan mengikat dari bioskop Kelud.
Saat film diputar, penonton bisa menikmati film dengan bebas, mulai dengan membawa mobil, duduk di kursi, hingga menggelar tikar untuk lesehan. Tak jarang, terjadi interaksi antara satu penonton dan penonton lain beriring sentilan komentar, siulan atau tawa untuk merespons berbagai adegan dalam film. Kebebasan seperti itu lah yang menjadi ciri khas dari bioskop Kelud atu yang dikenal dengan bioskop Misbar ini.
Seolah mengusung jiwa yang serupa, Lelakon akan menghadirkan ruang tontonan tersebut di tengah-tengah masyarakat Malang. Bertepatan dengan perayaan Hari film Nasional 2017, Lelakon akan menyelenggarakan pemutaran film layar tancepan di tiga lokasi berbeda di Malang. Bertajuk 'Ngalam Misbar' program ini akan dihelat pada:
  • 25 Maret 2017 di di Taman Singha Merjosari, kota Malang
  • 28 Maret 2017 di Kamateatra Art Space Singosari, kabupaten Malang
  • 29 Maret 2017 di Balai RW. 08 Samaan, Kota Malang
Film-film yang akan diputar antara lain;
  • Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara (Herwin Novianto, 2016),
  • Sokola Rimba(Riri Riza, 2013),
  • BalikJakarta (Jason Iskandar, 2016),
  • Kitorang Basudara (Nindi Raras, 2015),
  • In The Origin of Fear (Bayu Prihantoro Filemon, 2016),
  • Pangreh (Harvan Agustriansyah, 2016),
  • Wachtenstaad (Fajar Ramayel,2014),
  • Kapur Ade (Firman Wirdyasmara, 2015),
  • Joshua (Alvin Ardiansyah, 2014),
  • Jumprit Singit (Mahesa Desaga, 2012)
Selain Ngalam Misbar, pemutaran film juga akan diselenggarakan di beberapa kafe di Kota Malang. Acara ini juga bekerja sama dengan Parade Film Malang (PFM) 2017, yang telah berlangsung sejak awal Maret kemarin hingga akhir bulan nanti.
Lélakon sendiri merupakan komunitas pemutar film di Malang sejak 2016. Tahun ini, Lélakon ditunjuk oleh Pusbang Film Kemendikbud dan panitia HFN 2017 sebagai koordinator pemutaran film HFN 2017 di Malang. Lélakon memutarkan film-film Indonesia, baik film pendek atau panjang, fiksi, dokumenter, maupun animasi, sekali dalam sebulan.
Mengingat, Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Budaya R.I menyelanggarakan kegiatan Hari Film Nasional 2017(HFN 2017) dengan tema "Merayakan Keberagaman Indonesia", pada Maret 2017 ini. Pusbang Film Kemendikbud R.I bersama panitia HFN 2017 bekerja sama dengan 12 komunitas di 12 kota pilihan di Indonesia dalam rangka pemutaran film bersama komunitas dan masyarakat.
Untuk informasi lebih lengkap bisa di akses di media sosial, 
twitter/instagram: @infolelakon dan @paradefilmMLG.

You May Also Like

0 komentar